Spesies Baru Hiu Ditemukan di Pasar Ikan

Spesies baru hiu ditemukan ilmuwan di pasar ikan Tashi, Taiwan. Ini mungkin bukan hal yang biasa, juga bukan pertama kalinya. Sebelumnya, spesies hiu baru juga pernah ditemukan di pasar ikan Indonesia pada tahun 2007.

William White dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization di Australia mengatakan bahwa nama spesies baru itu adalahSqualus formosus. Spesies yang ditemukan memiliki panjang 1 meter dan hidung pendek sepertidogfish. Selain spesies tersebut, White juga menemukan spesies lain dari genus Squalus.

Jenis Squalus formosus berbeda dengan lainnya karena karakteristik sirip tegak di bagian belakang, tulang yang kuat, serta kepala yang pendek dan bulat. Penemuan spesies ini adalah hasil penelitian mengoleksi ikan di pasar ikan secara sengaja. "Kami mengoleksi beberapa materi dan melihat apakah ada perbedaan dengan hiu yang ditangkap dari dekade sebelumnya," kata White.

Menurut White, spesies hiu ini tertangkap oleh nelayan sebagai hasil by catch (tangkapan sampingan) dari perikanan. Di pasar ikan, tak banyak orang yang mengenali perbedaan ciri spesies baru hiu ini dengan hiu lainnya. Soal, rasa, belum bisa diketahui sebab peneliti belum mencicipinya.

"Spesies dari golongan yang sama di Indonesia dikeringkan dan diasinkan untuk konsumsi manusia, sementara siripnya digunakan untuk bahan baku sup. Namun, hal ini tak langsung merefleksikan apa yang terjadi di Taiwan," kata White.
White mengatakan, saat ini diketahui bahwa spesies hiu baru ini hanya tersebar di Taiwan dan Jepang. Kemungkinan untuk ditemukan di wilayah lain sangat kecil sebab genus Squalus umumnya memiliki persebaran yang sempit.

White menambahkan, mengetahui jangkauan persebaran spesies sangat penting sehingga "kesehatan" populasi suatu spesies dapat diketahui. Pada hiu, pemantauan perlu dilakukan sebab merupakan salah satu jenis yang paling diburu dan berpotensi by catch tinggi.

Penemuan spesies ini dipublikasikan di Journal of Fish Biology. Hiu adalah spesies dengan tingkat reproduksi yang tergolong rendah sehingga akan sangat rentan karena overfishing. "Jadi, secara pribadi saya memilih untuk tidak memakannya," katanya.

[kompas.com]

4 komentar :

  1. @Everything™ZM : Thx dah berkunjung.. Besok2 brkunjung lagi ya!! hehe ^^

    ReplyDelete
  2. nah loe..
    malah sebelumnya duluan ditemukan di Indonesia (2007)
    itu membuktikan Indonesia emang kaya keanekaragaman hayati..

    ReplyDelete
  3. @tech tips : ya sob.. mlah kata ilmuan di papua masih banyak spesies2 yang bulm d temukan... Thx dah berkunjung.. hehe

    ReplyDelete